PARIWARA

Your Ad Here
Showing posts with label kematangan. Show all posts
Showing posts with label kematangan. Show all posts

Monday, January 21, 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PRODUK

Tidak saja keadaan pascapanen yang mempengaruhi kualitas atau mutu produk panenan tetapi termasuk pula faktor prapanen. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas komoditi hortikultura: 
  1. Faktor genetik. Pemilihan atau seleksi kultivar bagi tanaman yang diperbanyak dengan benih (biji) khususnya tanaman semusim. Sedangkan bagi tanaman tahunan biasanya sangat tergantung pada pemilihan jenis batang bawang dalam pengadaan atau persiapan bibit. 
  2. Faktor lingkungan prapanen. Unsur iklim, seperti : suhu, cahaya, angin, curah hujan, dan polutan Kondisi budidaya (bercocok tanam), seperti : jenis tanah, penyediaan hara dan air, pemakaian mulsa, pemangkasan (pruning), penjarangan buah dan atau bunga (thinning), dan penggunaan bahan kimiawi 
  3. Pemanenan. Aspek yang merupakan faktor penting terkait dengan pemanenan adalah : teknik panen, tingkat kematangan dan atau kemasakan, dan perkembangan fisiologis tanaman. 
  4. Perlakuan pascapanen. Metode penanganan, periode antara saat panen dengan saat dikonsumsi, dan faktor lingkungan, seperti: suhu, kelembaban relatif, dan komponen atmosfir. 
  5. Interaksi antara berbagai faktor yang dijelaskan di atas. 
Sumber: Bambang B. Santoso. 2012. Standarisasi Mutu Produk Pascapanen.
Baca Selengkapnya »»

Tuesday, December 25, 2012

KOMPONEN POKOK KUALITAS PRODUK PASCAPANEN HORTIKULTURA


Komponen pokok dalam kualitas produk panenan hortikultura, yaitu: 
  1. Kualitas penampilan (Visual). Tingkat kepentingan tiap komponen kualitas tergantung pada peruntukan terhadap komoditi bersangkutan. Komponen kualitas bagi bunga potong ditekankan pada kualitas penampilan atau penampakan. Beberapa cacat dapat mempengaruhi nilai kualitas penampilan produk panenan hortikultura. Cacat morfologi yang meliputi pertunasan (pada kentang, bawang), perpanjang disertai pembengkokan (pada asparagus dan bunga potong), berkecambahnya biji (pada tomat, cabe), tumbuhnya tunas-tunas kecil (pada selada, kubis), mekarnya bunga (pada brokoli, kol kembang) dan lain-lain. Cacat fisik meliputi layu dan mengkerut pada semua komoditi panenan, dan juga mengering pada bagian dalam komoditi, terutama pada buah. Sedangkan cacat akibat kerusakan mekanik dapat disebabkan karena tusukan, luka dan goresan, terbelah, terhimpit, dan tergesek, serta luka memar.
  2. Kualitas Tekstur. Tekstur komoditi panenan hortikultura sangat menentukan kualitas makanan dan masakan (bentuk olahan), sehingga tekstur merupakan faktor yang diperlukan untuk mempertahankan produk dari cekaman selaman proses penanganan pasca panen terutama pengiriman. Buah-buah yang lunak tidak dapat dikirim hingga jarak yang jauh tanpa adanya kehilangan produk dalam jumlah cukup akibat luka fisik. Untuk mengantisipasi kenyataan tersebut, maka terhadap buah yang bertekstur lunak dipanen pada kondisi di bawah tingkat kematangan yang optimal. 
  3. Kualitas Rasa (Flavour). Kualitas rasa tentunya akan melibatkan kerja indera perasa terhadap senyawa terkandung dalam produk yang mempengaruhi rasa maupun aroma. Namun demikian kualitas rasa ini sangat subyektif terkandung pada orangnya. Ada sebagian besar kelompok orang yang lebih suka rasa masam, maka komoditi yang memiliki rasa masam tersebut dikatakan sebagai kualitas baik. Namun, untuk sekolompok lainnya yang lebih suka rasa manis dan segar, maka terhadap komoditi yang sama tersebut dikatakan tidak memiliki kualitas rasa yang baik. Diperlukan suatu pengujian kualitas rasa pada skala yang luas dari konsumen yang representatif.
  4. Kualitas Nilai Nutrisi. Buah dan sayuran segar berperanan penting pada nutrisi manusia, khususnya sebagai sumber vitamin (C, B6, A, thiamin, niacin), mineral, dan serat. Kehilangan kualitas nutrisi, khususnya vitamin C, dapat terjadi dengan adanya kerusakan fisik, periode penyimpanan yang panjang, suhu tinggi, kelembaban udara yang rendah, dan kerusakan akibat pembekuan (chilling injury). 
  5. Kualitas Keamanan (Savety) Faktor-faktor keamanan termasuk tingkat senyawa toksik alami pada tanaman tertentu (contohnya glycoalkoloid pada kentang) yang keberadaannya sangat tergantung pada genotipe, juga merupakan faktor kualitas yang sangat mempengaruhi komoditi. Namun dengan program pemuliaan, kandungan senyawa toksik ini dapat dikendalikan pada tingkat aman. Kontaminan seperti residu kimia dan logam berat pada buah dan sayuran segar juga merupakan faktor penentu kualitas. Residu pada tingkat yang aman perlu dikendalikan melalui pengawasan pelaksanaan pengendalian hama-penyakit. Sanitasi saat panen dan penanganan pascapanen sangat penting untuk meminimumkan kontaminasi mikroba. Upaya atau tindakan untuk mengurangi pertumbuhan dan perkembangan jamur dan bakteri yang menghasilkan toksin perlu dilakukan sejak prapanen hingga pascapanen. 
Sumber: Bambang B. Santoso. 2012. Standarisasi Mutu Produk Pascapanen.
Baca Selengkapnya »»