PARIWARA

Your Ad Here

Tuesday, December 28, 2010

Peningkatan Posisi Tawar Petani

Peningkatan posisi tawar petani dapat meningkatkan akses masyarakat pedesaan dalam kegiatan ekonomi yang adil, sehingga bentuk kesenjangan dan kerugian yang dialami oleh para petani dapat dihindarkan. Menurut Akhmad (2007), upaya yang harus dilakukan petani untuk menaikkan posisi tawar petani adalah dengan :
a. Konsolidasi petani dalam satu wadah untuk menyatukan gerak ekonomi dalam setiap rantai pertanian, dari pra produksi sampai pemasaran. Konsolidasi tersebut pertama dilakukan dengan kolektifikasi semua proses dalam rantai pertanian, meliputi kolektifikasi modal, kolektifikasi produksi, dan kolektifikasi pemasaran. Kolektifikasi modal adalah upaya membangun modal secara kolektif dan swadaya, misalnya dengan gerakan simpan-pinjam produktif yang mewajibkan anggotanya menyimpan tabungan dan meminjamnya sebagai modal produksi, bukan kebutuhan konsumtif. Hal ini dilakukan agar pemenuhan modal kerja pada awal masa tanam dapat dipenuhi sendiri, dan mengurangi ketergantungan kredit serta jeratan hutang tengkulak.

b. Kolektifikasi produksi, yaitu perencanaan produksi secara kolektif untuk menentukan pola, jenis, kuantitas dan siklus produksi secara kolektif. Hal ini perlu dilakukan agar dapat dicapai efisiensi produksi dengan skala produksi yang besar dari banyak produsen. Efisisensi dapat dicapai karena dengan skala yang lebih besar dan terkoordinasi dapat dilakukan penghematan biaya dalam pemenuhan faktor produksi, dan kemudahan dalam pengelolaan produksi, misalnya dalam penanganan hama dan penyakit. Langkah ini juga dapat menghindari kompetisi yang tidak sehat di antara produsen yang justru akan merugikan, misalnya dalam irigasi dan jadwal tanam.

c. Kolektifikasi dalam pemasaran produk pertanian. Hal ini dilakukan untuk mencapai efisiensi biaya pemasaran dengan skala kuantitas yang besar, dan menaikkan posisi tawar produsen dalam perdagangan produk pertanian. Kolektifikasi pemasaran dilakukan untuk mengkikis jaring-jaring tengkulak yang dalam menekan posisi tawar petani dalam penentuan harga secara individual. Upaya kolektifikasi tersebut tidak berarti menghapus peran dan posisi pedagang distributor dalam rantai pemasaran, namun tujuan utamanya adalah merubah pola relasi yang merugikan petani produsen dan membuat pola distribusi lebih efisien dengan pemangkasan rantai tata niaga yang tidak menguntungkan.
Oleh karena itu, diperlukan kelembagaan ekonomi pedesaan yang mampu memberikan kekuatan bagi petani (posisi tawar yang tinggi). Kelembagaan pertanian dalam hal ini mampu memberikan jawaban atas permasalahan di atas. Penguatan posisi tawar petani melalui kelembagaan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak dan mutlak diperlukan oleh petani, agar mereka dapat bersaing dalam melaksanakan kegiatan usahatani dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Pengembangan masyarakat petani melalui kelembagaan pertanian/kelompok tani merupakan suatu upaya pemberdayaan terencana yang dilakukan secara sadar dan sungguh-sungguh melalui usaha bersama petani untuk memperbaiki keragaman sistem perekonomian masyarakat pedesaan. Arah pemberdayaan petani akan disesuaikan dengan kesepakatan yang telah dirumuskan bersama. Dengan partisipasi yang tinggi terhadap kelembagaan petani, diharapkan rasa ikut memiliki dari masyarakat atas semua kegiatan yang dilaksanakan akan juga tinggi.
Baca Selengkapnya »»

Sunday, December 12, 2010

Kelayakan Usahatani Budidaya Kacang Hijau / ha

1. Biaya Produksi
A.Penggunaan Tenaga Kerja = Rp.809.000,- /ha dengan rincian sebagai berikut:
Pengolahan Tanah = Rp.263.000,-
Aplikasi pupuk dasar = Rp.0
Penanaman = Rp. 139.000,-
Penyiangan = Rp.131.000,-
Pemupukan = Rp.0
Pemeliharaan = Rp.65.000,-
Panen = Rp.118.000,-
Pascapanen = Rp.93.000,-

B. Sarana Produksi = Rp.96.000,- /ha dengan rincian sebagai berikut :
Benih = Rp.46.000,-
Urea = Rp.0,-
SP 36 =Rp.0,-
KCl = Rp.0,-
Pupuk Kandang = Rp.0,-
Obat-obatan = Rp.50.000,-


C. Total Biaya Produksi = Biaya tenaga kerja + biaya sarana produksi = Rp.905.000,- / ha

2. Hasil Usahatani
Produksi = 260 kg /ha
Penerimaan = Rp.1.300.000,- /ha
Pendapatan = Penerimaan - Total Biaya = Rp.1.300.000 - Rp.905.000 = Rp.395.000, - /ha

3. Analisis Kelayakan Usahatani
R/C = Rp.1.300.000/905.000 = 1,44
B/C =395.000/905.000 = 0,44

Kesimpulan : 
  1. Usahatani kacang hijau layak menguntungkan untuk dibudidayakan
  2. Keuntungan atau pendapatan dapat diperbesar dengan cara menekan biaya tenaga kerja berupa kegiatan pengolahan tanah sampai pasca panen dengan menggunakan tenaga kerja sendiri atau anggota keluarga
  3. Acuan semua biaya dan harga kacang hijau /kg tidak bisa disamaratakan untuk setiap daerah karena kondisi dan karakteristik setiap daerah berbeda-beda serta biaya dan harga bersifat dinamis artinya dapat berubah setiap saat.
Baca Selengkapnya »»

Wednesday, December 01, 2010

Klasifikasi dan Karakteristik Sistem Usahatani Ternak

Klasifikasi dan karakteristik sistem usahatani ternak dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) klas yang didasarkan pada skala usaha, jenis ternak, sistem pemeliharaannya dan sifat khusus dari ternak tersebut.
  1. Klas Unggas Komersil
    1. Tidak berada di kawasan dengan topografi tertentu dan jenis tanah tertentu
    2. Lahan yang digunakan adalah bersifat sewa atau hak guna pakai
    3. Berada di lokasi dengan sarana dan prasarana transportasi relatif lebih baik, yaitu di sekitar kota sehingga akses terhadap pasar juga bagus.
    4. Jenis ternaknya adalah ayam ras pedaging dan petelur
    5. Sistem pemeliharaannya intensif dengan menerapkan manajemen dan teknologi yang moderen, terutama yang berskala di atas 2000 ekor.
    6. Peternaknya adalah masyarakat yang relatif sudah berpikiran terbuka (open minded)
    7. Kelompok peternak klas ini adalah; petani pengusaha, pekerja, dan pemilik peternakan serta plasma.
    8. Kelembagaan peternak relatif lebih bagus

    1. Klas Unggas “non komersil”
      1. Terdapat di hampir semua kawasan topografi dan jenis tanah, kota dan desa
      2. Jenis ternak yang dipelihara ayam buras, itik dan unggas lainnya
      3. Sistem pemeliharannya bersifat ekstensif dan sambilan tanpa input manajemen dan teknologi dalam skala rumah tangga dan skala 50 – 150 bersifat semi intensif dengan sedikit input manajemen dan teknologi seperti pemeliharaan tanpa diumbar.
      4. Peternaknya pada umumnya adalah masyarakat kalangan menengah ke bawah baik dari segi sosial ekonomi maupun pendidikan.
      5. Kepemilikan terhadap ternak: milik sendiri
      6. Tidak terdapat kelembagaan petani
    1. Klas ruminansia pedaging dan babi
      1. Terdapat di hampir semua kawasan topografi dan jenis tanah, dan perdesaan
      2. Jenis ternak yang dipelihara: domba, kambing, sapi, kerbau dan babi
      3. Berdasarkan sistem pemeliharaan terdapat sub klas: a) dilepas; yaitu ternak dilepas pada pagi hari dan sore hari dikandangkan, ternak diberi keleluasaan mencari pakan secara mandiri dan b) dikandangkan; ternak dipelihara di dalam kandang atau digembalakan dengan cara dikendalikan dengan tali yang ditambatkan, kecuali ternak babi yang sepenuhnya dikandangkan dan pemberian pakan secara cut and carry berupa rumput alam dan sedikit makanan penguat.
      4. Sistem pemeliharaan ini terkait dengan kultur masyarakat di mana cara pemeliharaan dilepas dan sistem dikandangkan.
      5. Sistem pemeliharannya bersifat ekstensif dan sedikit input manajemen dan teknologi, khususnya ternak dengan sistem dikandangkan. Usahatani ini bersifat integratif dengan sistem usahatani umumnya.
      6. Karakteristik peternak: kelas menengah ke bawah.
      7. Status kepemilikan: milik sendiri, penggaduh, dan bantuan bergulir (pinjaman lunak) dari pemerintah.
      8. Kelembagaan peternak yang telah ada biasanya terdapat pada subklas sistem pemeliharaan dikandangkan.
    1. Klas Perah
      1. Ternak: sapi perah FH
      2. Sistem pemeliharaan bersifat semi intensif dalam skala rumah tangga dan dipelihara di atas lahan sendiri.
      3. Pakan: rumput alam dan budidaya ditambah konsentrat.
      4. Peternak klas ini merupakan petani kecil
      5. Status kepemilikan merupakan bantuan bergulir dari pemerintah.
      6. Berdiri kelembagaan peternak.

        Sumber : Suharyanto, staf pengajar jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
    Baca Selengkapnya »»

    Wednesday, September 22, 2010

    Selamat Hari Raya Idul Fitri

    1 Syawal 1413 H, Minal Aidin wal Faidin, Mohon Maaf Lahir dan Batin Baca Selengkapnya »»

    Monday, August 09, 2010

    SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1431 H

    Allahumma bariklanaa fii rajab wa sya’ban wa balighna fii ramadhan ! Marhaban ya Ramadhan 1431 H jelang tiba bulan yang penuh Rahmat dan Maghfirah, bersihkan hati untuk meraih keridhoan ALLAH SWT dalam mencapai derajat Muttaqin. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf !
    Baca Selengkapnya »»