PARIWARA

Your Ad Here

Thursday, February 21, 2013

METODE EVALUASI KUALITAS PRODUK HORTIKULTURA

Tingkat kualitas produk hortikultura panenan tentunya memerlukan suatu metode analisis. Metode evaluasi kualitas produk panenan yang tersedia ada dua macam, yaitu diarahkan kepada sifat atau cara mengevaluasi, dan evaluasi atas dasar penilaian. Metode evaluasi kualitas atas dasar sifat evaluasi ada dua macam, yaitu : 
  1. Metode Destruktif (merusak), evaluasi dilakukan dengan cara merusak komoditi; 
  2. Metode Non-Destruktif, evaluasi dilakukan dengan cara tidak merusak komoditi. 

Sedangkan metode evaluasi yang didasari atas sifat penilaian meliputi: 
  1. Metode yang berifat obyektif, yaitu metode evaluasi berdasarkan alat analisis yang digunakan; 
  2. Metode yang bersifat subyektif, yaitu metode evaluasi berdasarkan penilaian manusia ataupun dengan cara menggunakan skala. 

Sumber: Bambang B. Santoso. 2012. Standarisasi Mutu Produk Pasca Panen.
Baca Selengkapnya »»

Friday, February 15, 2013

ALAT EVALUASI KUALITAS PENAMPILAN PRODUK HORTIKULTURA

Metode dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas penampilan produk hortikultura adalah: 
  1. Ukuran. a) Dimensi: diukur dengan cincin (ring) pengukur, jangka sorong; b) Bobot: umumnya menghubungkan antara ukuran dan berat. Ukuran juga dapat dinyatakan sebagai jumlah komoditi tiap unit beratnya, misalnya 10 apel/kg; c) Volume: diketahui melalui pencelupan dalam air atau melalui pengukuran dimensi. 
  2. Bentuk (shape). Perbandingan dimensi seperti perbandingan antara diameter dengan kedalaman digunakan sebagai indek bentuk buah. Model (diagram-gambar) merupakan suatu alat evaluasi kualitas bentuk. 
  3. Warna. Keseragaman dan intensitas, merupakan kualitas penampilan yang sangat penting: a). Visual Matching – kartu warna (colour chart) petunjuk untuk mencocokan dan menetukan warna buah dan sayuran; b). Light Reflection Meter – pengukur warna berdasarkan jumlah cahaya yang dipantulkan dari permukaan komoditi; c). Light Transmision Meter – pengukur warna melalui cahaya yang diteruskan (transmit) oleh komoditi. Digunakan untuk menentukan warna internal dan berbagai penyakit. 
  4. Kandungan pigmen, merupakan cara mengevaluasi komoditi berdasarkan kandungan pigmen seperti klorofil, karotenoid (karotin, licopen, xantopil) dan flavonoid (anthosianin). 
  5. Kilau (gloss atau bloom), merupakan kualitas penampakan dari kilap atau kilau permukaan produk. Contoh alat Gloos Meter. 
  6. Adanya cacat (eksternal dan internal). Jumlah intensitas cacat dievaluasi dengan menggunakan sistim skoring dari 1 s/d 5. 1 = tidak ada gejala 2 = gejala ringan 3 = gejala sedang 4 = gejala banyak 5 = gejala sangat banyak Jika diperlukan kategori atau skor dapat diperpanjang dari 1 s/d 7 atau 1 s/d 9. Untuk mengurangi keragaman nilai antar evaluator, maka perlu pula disertakan gambaran rinci dan foto sebagai petunjuk dalam pemberian skor. 

Sumber: Bambang B. Santoso. 2012. Standarisasi Mutu Produk Pasca Panen.
Baca Selengkapnya »»

Monday, January 21, 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PRODUK

Tidak saja keadaan pascapanen yang mempengaruhi kualitas atau mutu produk panenan tetapi termasuk pula faktor prapanen. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas komoditi hortikultura: 
  1. Faktor genetik. Pemilihan atau seleksi kultivar bagi tanaman yang diperbanyak dengan benih (biji) khususnya tanaman semusim. Sedangkan bagi tanaman tahunan biasanya sangat tergantung pada pemilihan jenis batang bawang dalam pengadaan atau persiapan bibit. 
  2. Faktor lingkungan prapanen. Unsur iklim, seperti : suhu, cahaya, angin, curah hujan, dan polutan Kondisi budidaya (bercocok tanam), seperti : jenis tanah, penyediaan hara dan air, pemakaian mulsa, pemangkasan (pruning), penjarangan buah dan atau bunga (thinning), dan penggunaan bahan kimiawi 
  3. Pemanenan. Aspek yang merupakan faktor penting terkait dengan pemanenan adalah : teknik panen, tingkat kematangan dan atau kemasakan, dan perkembangan fisiologis tanaman. 
  4. Perlakuan pascapanen. Metode penanganan, periode antara saat panen dengan saat dikonsumsi, dan faktor lingkungan, seperti: suhu, kelembaban relatif, dan komponen atmosfir. 
  5. Interaksi antara berbagai faktor yang dijelaskan di atas. 
Sumber: Bambang B. Santoso. 2012. Standarisasi Mutu Produk Pascapanen.
Baca Selengkapnya »»

Tuesday, December 25, 2012

KOMPONEN POKOK KUALITAS PRODUK PASCAPANEN HORTIKULTURA


Komponen pokok dalam kualitas produk panenan hortikultura, yaitu: 
  1. Kualitas penampilan (Visual). Tingkat kepentingan tiap komponen kualitas tergantung pada peruntukan terhadap komoditi bersangkutan. Komponen kualitas bagi bunga potong ditekankan pada kualitas penampilan atau penampakan. Beberapa cacat dapat mempengaruhi nilai kualitas penampilan produk panenan hortikultura. Cacat morfologi yang meliputi pertunasan (pada kentang, bawang), perpanjang disertai pembengkokan (pada asparagus dan bunga potong), berkecambahnya biji (pada tomat, cabe), tumbuhnya tunas-tunas kecil (pada selada, kubis), mekarnya bunga (pada brokoli, kol kembang) dan lain-lain. Cacat fisik meliputi layu dan mengkerut pada semua komoditi panenan, dan juga mengering pada bagian dalam komoditi, terutama pada buah. Sedangkan cacat akibat kerusakan mekanik dapat disebabkan karena tusukan, luka dan goresan, terbelah, terhimpit, dan tergesek, serta luka memar.
  2. Kualitas Tekstur. Tekstur komoditi panenan hortikultura sangat menentukan kualitas makanan dan masakan (bentuk olahan), sehingga tekstur merupakan faktor yang diperlukan untuk mempertahankan produk dari cekaman selaman proses penanganan pasca panen terutama pengiriman. Buah-buah yang lunak tidak dapat dikirim hingga jarak yang jauh tanpa adanya kehilangan produk dalam jumlah cukup akibat luka fisik. Untuk mengantisipasi kenyataan tersebut, maka terhadap buah yang bertekstur lunak dipanen pada kondisi di bawah tingkat kematangan yang optimal. 
  3. Kualitas Rasa (Flavour). Kualitas rasa tentunya akan melibatkan kerja indera perasa terhadap senyawa terkandung dalam produk yang mempengaruhi rasa maupun aroma. Namun demikian kualitas rasa ini sangat subyektif terkandung pada orangnya. Ada sebagian besar kelompok orang yang lebih suka rasa masam, maka komoditi yang memiliki rasa masam tersebut dikatakan sebagai kualitas baik. Namun, untuk sekolompok lainnya yang lebih suka rasa manis dan segar, maka terhadap komoditi yang sama tersebut dikatakan tidak memiliki kualitas rasa yang baik. Diperlukan suatu pengujian kualitas rasa pada skala yang luas dari konsumen yang representatif.
  4. Kualitas Nilai Nutrisi. Buah dan sayuran segar berperanan penting pada nutrisi manusia, khususnya sebagai sumber vitamin (C, B6, A, thiamin, niacin), mineral, dan serat. Kehilangan kualitas nutrisi, khususnya vitamin C, dapat terjadi dengan adanya kerusakan fisik, periode penyimpanan yang panjang, suhu tinggi, kelembaban udara yang rendah, dan kerusakan akibat pembekuan (chilling injury). 
  5. Kualitas Keamanan (Savety) Faktor-faktor keamanan termasuk tingkat senyawa toksik alami pada tanaman tertentu (contohnya glycoalkoloid pada kentang) yang keberadaannya sangat tergantung pada genotipe, juga merupakan faktor kualitas yang sangat mempengaruhi komoditi. Namun dengan program pemuliaan, kandungan senyawa toksik ini dapat dikendalikan pada tingkat aman. Kontaminan seperti residu kimia dan logam berat pada buah dan sayuran segar juga merupakan faktor penentu kualitas. Residu pada tingkat yang aman perlu dikendalikan melalui pengawasan pelaksanaan pengendalian hama-penyakit. Sanitasi saat panen dan penanganan pascapanen sangat penting untuk meminimumkan kontaminasi mikroba. Upaya atau tindakan untuk mengurangi pertumbuhan dan perkembangan jamur dan bakteri yang menghasilkan toksin perlu dilakukan sejak prapanen hingga pascapanen. 
Sumber: Bambang B. Santoso. 2012. Standarisasi Mutu Produk Pascapanen.
Baca Selengkapnya »»

Tuesday, December 18, 2012

PENTINGNYA MEMBENTUK KELOMPOK USAHATANI!

Secara individu para petani kita sebenarnya memiliki ketangguhan dalam berusaha. Ini terbukti dengan tetap eksisnya usahatani sampai saat ini meskipun banyak faktor eksternal di luar lingkungan petani mengguncang usahanya misalnya: kenaikan harga-harga input dan energi. Ternyata secara kultural usahatani sudah merupakan bagian kehidupan petani sehingga apapun yang terjadi usahatani tetap dapat dijalankan. Selain itu usahatani dapat bertahan karena pemanfaatan sumberdaya lokal yang tidak memerlukan transaksi finansial ternyata masih dominan, misalnya : pengairan, tenaga kerja keluarga, bahan organik, hijauan pakan dan sebagainya. Secara umum kedua hal tersebut dapat disebut sebagai keunggulan komparatif. (Simatupang, 1995). 

Namun demikian usaha pertanian yang dimiliki petani tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan yang diperoleh petani pelakunya , justru kesejahteraan yang lebih tinggi dinikmati oleh pihak di luar lingkungan petani produsen (dalam sistem usahatani) misalnya : penyedia input, pedagang pengumpul, pengusaha alsintan, penyedia modal kerja dan sebagainya. Keadaan ini terjadi karena secara individu petani masih banyak memiliki kelemahan baik dari aspek penguasaan asset usaha, akses terhadap informasi, akses terhadap sumber teknologi, akses terhadap modal, pasar, mitra dan sebagainya. Kelemahan tersebut berakibat terhadap biaya finansial yang harus dikeluarkan menjadi besar dan menjadikan posisi petani sebagai pihak yang selalu diatur atau tergantung pada pihak lain (Baga , 2010). 

Secara internal petani kita juga terkendala oleh sempitnya penguasaan lahan dan kualitas SDM yang masih rendah sementara itu tuntutan biaya hidup semakin tinggi. Oleh karena itu siasat yang akhirnya dipilih adalah dengan intensifikasi. Namun dapatkah efisiensi dan penerapan teknologi dapat dilakukan mengingat skala usaha dan rendahnya kualitas SDM dipihak petani ?. Itulah sebabnya kita harus menyadari bahwa pencapaian kesejahteraan akan sulit tercapai selama masih dilakukan secara individu. Dari profil tersebut diatas maka perlunya berkelompok adalah penting untuk diwujudkan. Dalam komunitas apapun termasuk masyarakat petani selalu ada pioner yang berwawasan maju dan kesadaran petani sendiri untuk berkembang dengan tata nilai maju dapat ditumbuhkan oleh pihak-pihak yang peduli. (Dubell, 1985). 

Sumber: Seno Basuki dan Ratih Kurnia. 2011. Membangun Kelompok Usaha Pertanian Ramah Lingkungan Berwawasan Agribisnis. Jawa Tengah: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
Baca Selengkapnya »»